Tampilkan postingan dengan label Ronggeng Bugis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ronggeng Bugis. Tampilkan semua postingan

Fungsi Tari Ronggeng Bugis




Berdasarkan pola garapannya tari dibedakan menjadi dua, yaitu tari kreasi baru dan tari tradisional. Tari kreasi baru merupakan tari yang mengarah kepada kebebasan dalam pengungkapan gerak, sedangkan tari tradisional adalah tari yang mengalami perjalanan sejarah cukup lama dan bertumpu pada pola tradisi. 

Berdasarkan fungsinya tari tradisional dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
  1.          Tari sebagai sarana upacara

Fungsi tari sebagai sarana upacara merupakan bagian dari tradisi yang ada
dalam suatu kehidupan di masyarakat. Tari ini bersifat turun temurun dari
generasi ke generasi berikutnya yang sampai masa kini memiliki fungsi sebagai
upacara ritual. Upacara yang pada umumya bersifat sakral dan magis. Pada tari
upacara faktor keindahan tidak diutamakan, yang diutamakan adalah kekuatan
yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri ataupun hal- hal di
luar dirinya dan bertujuan untuk ritualisme tanpa mengindahkan keindahan dan materi duniawi.

          Ciri-ciri tari yang berfungsi sebagai tarian upacara, yaitu sebagai berikut:

  •     Dilakukan pada kegiatan-kegiatan ritual keagamaan yang bersifat sakral dan magis serta pada kegiatan kemasyarakatan yang bersifat sakral.
  •       Gerakannya sangat sederhana karena gerak merupakan ungkapan spontan sebagai ungkapan dalam menjembatani kehendak jiwa para penarinya.
  •         Gerakannya monoton dan banyak pengulangan.
  •         Perwujudan sajian tari (waktu,aturan) erat dengan tujuan penyelenggaraannya
  •         Musik terdengar monoton.
  •         Menggunakan alat musik sederhana dan seadanya.
  •         Penyajiannya tidak menyentuh segi artistic.
  •        Inti dari gerak tari ini adalah terkabul atau tersampaikannya tujuan.

        2. Tari sebagai sarana hiburan

Tari ini memiliki tujuan hiburan pribadi lebih mementingkan kenikmatan
dalam menarikan. Tari hiburan disebut tari gembira, pada dasarnya tarian
gembira tidak bertujuan untuk ditonton akan tetapi tarian ini cenderung untuk
kepuasan para penarinya itu sendiri. Keindahan tidak diutamakan, tetapi
mementingkan kepuasan individual, bersifat spontanitas dan improvisasi.
Tarian ini untuk konsumsi publik. Dalam penyajiannya terkait dengan berbagai
kepentingan terutama dalam kaitannya dengan hiburan, amal bahkan untuk
memenuhi kepentingan publik dalam rangka hiburan saja.

            3.   Tari sebagai sarana pergaulan

Dalam hal ini tari memiliki fungsi pergaulan antara sesama manusia.

       4. Tari sebagai pertunjukkan

Tari pertunjukkan adalah bentuk komunikasi sehingga ada penyampai
pesan dan penerima pesan. Tari ini lebih mementingkan bentuk estetika dari
pada tujuannya. Tarian ini lebih digarap sesuai dengan kebutuhan masyarakat
setempat’ tarian ini sengaja disusun untuk dipertontonkan. Oleh sebab itu
penyajian tari mengutamakan segi artistiknya yang konsepsional, koreografer
yang baik serta tema dan tujuan yang jelas (Saimin, 1993: 26-31).

Ronggeng Bugis unik, lucu, jenaka





Unik, lucu, dan jenaka itulah tari Ronggeng Bugis. Jika memperhatikan namanya tarian ini terdengar seperti tidak  berasal dari Jawa Barat, namun ternyata tarian ini berasal dari salah satu kota dipesisir utara Pulau Jawa yaitu Kota Cirebon.

Pada awalnya tarian ini dibuat bukan hanya suatu bentuk karya tari saja, tarian ini justru memiliki maksud dan tujuan tertentu. Sekitar abad 15 an Robnggeng Bugis digagas oleh orang berasal dari Suku Bugis yang tengah bermigrasi ke Kota Cirebon, Kemudian ia bersama kelompok tarinya dikirim ke Kerajaan Sunda Galuh yang merupakan penyatuan dua kerajaan besar di Tanah Sunda. Tujuannya untuk sebuah misi politik pada saat itu.

“Ronggeng Bugis itu muncul ketika itu pada waktu kesunanan Cirebon Gunung Jati mau menyerang Galuh dalam rangka penyebaran agama islam, agar tidak diketahui memata-matai itu dia melihat kesukan yang ada di Kerajaan Galuh itu berapa. Kebetulan pada waktu itu ada orang bugis . kalau di daerah Bugis perempuan dan laki-laki itu sama setengah Dewa jadi mediator antara manusia dan leluhur, dia menjadi dukun disana. Jadi, orang sana mengatakan setengah dewa. Jadi segala apapun kegiatan dengan hal tradisi dan kebudayaan di daerah bugis itu dicapai menjadi penting kebudayaan sana”. Kata seorang Budayawan.

Tarian penampilan  seperti perempuan ini dimaksudkan untuk mengelabui dan menjauhkan rasa curiga masyarakat yang melihatnya. Dari penampilan ini mereka berhasil masuk ke Keraton Kerajaan. Dan lucu seperti menggelengkan kepala juga merupakan salah satu para penari untuk melihat bagaimana kondisi dan situasi Kerajaan Sunda Galuh.

Hingga pada tahun 1990 an seorang seniman asal Cirebon yang bernama Handoyo mengkreasikan Ronggeng Bugis menjadi tarian yang lebih komikan. Ditambah riasan yang  unik pada wajah para penari nya dibuat lucu menyerupai badut menambah kesan tarian ini menjadi lebih humoris. Hingga kini tarian Ronggeng Bugis masih terus dilestarikan. Salah satunya oleh Institut Seni Budaya Indonesia diKota Bandung. Tarian ini pun sempat menjadi mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswanya.

Untuk menambahkan kesan humoris pada tarian tersebut ternyata tidaklah mudah, namun menjadi suatu tantangan tersendiri bagi para penarinya, misalkan:

  •    “Pada gerakan yang natural, gerakan yang lebih kenyata seperti bodorannya”. Kata penari.
  •       Kesulitan pada karakter, ketika seseorang yang mempunyai peran sebagai seorang Putri  Nyi Mas Gandasari yang datang   menyamar seorang Ronggeng Bugis, ada seorang Raja namanya Raja Galuh ini sampai jatuh cinta kepada Putri Nyi Mas Gandasari yang berubah menjadi Ronggeng Bugis ini dicintai oleh seorang Raja maka dimanfaatkan dengan betul betul. Pokonya si Raja Galuh ini hingga menyerahkan benda pusaka Kerajaannya kepada PUtri Nyi Mas Gandasari ini.


Hingga kini seni tari Ronggeng Bugis Kerap Tampil pada pada panggung pertunjukan atau panggung Festifal Budaya. Meski terlihat seperti tari humor namun tari Ronggeng Bugis ini memiliki nilai sejarah dimasa lalu.



Ronggeng Bugis (Tarian telik sandi)





     Asal mula tari Ronggeng Bugis dilatarbelakangi ketegangan yang terjadi antara Kerajaan Cirebon dengan Kerajaan Islam. Sunan Gunung Jati yang merupakan Raja Cirebon, saat itu menyuruh seorang kerabat kerajaan yang berasal dari Bugis untuk memata matai atau melakukan telik sandi terhadap Kerajaan Pajajaran.

     Upaya yang dilakukan dengan membentuk grup kesenian, dengan cara bebarang atau ngamen dari satu tempat ke tempat yang lain. Oleh Raja Cirebon, kesenian tradisional yang digunakan untuk menjadi mata-mata disebut Ronggeng Bugis.

     Selama mengintai Kerajaan Pajajaran dengan membawa grup kesenian Ronggeng Bugis atau tari telik sandi, ternyata mereka banyak mendapat hasutan. Yaitu banyak informasi rahasia Kerajaan Pakuan Pajajaran berhasil disadap Kerajaan Islam Cirebon. Itulah sekilas sejarah tari telik sandi.

    Ronggeng Bugis dikenal juga dengan nama tari telik sandi. Secara harfiah, nama kesenian ini terdiri dari dua kata, yaitu ronggeng dan bugis. Secara umum pengertian Ronggeng adalah penari wanita atau tondak primadona sebagai teman menari, misalnya pada tari tayub.
   
  • Situasi Politik

  
     Di Cirebon ada juga seni pertunjukan rakyat yang penarinya adalah monyet yang disebut dengan ronggeng kethek (ketek/ kunyuk), tarian monyet yang jenaka dengan meniru gerak gerik manusia. Namun yang dimaksud ronggeng dalam ronggeng bugis adalah penari pria (laki-laki) yang berbusana wanita. Busana wanita disini pun bukanlah busana dengan tata rias yang cantik, melainkan mendekati busana mirip  badut yang mengundang gelak tawa.

Tari Ronggeng Bugis adalah salah satu jenis tari ronggeng yang hidup di Kp.Buyut, Desa Buyut. Kec. Cirebon Utara, Kab. Cirebon. Kesenian ini muncul karena situasi politik kala itu yang bergejolak saat pengaruh islam memasuki lingkungan Cirebon.

Kesenian ini semula merupakan bentuk penyamaran yang dilakukan sahabat Sunan Gunung Jati dari daerah Bugis untuk memata-matai Kerajaan Pajajaran, karena itu, bentuk kesenian ini disebut ronggeng bugis.

  • Mengajarkan Kesederhanaan


      Seluruh tarian tradisional yang lahir dan berkembang di Jawa Barat mengandung arti dan makna tersendiri. Selain itu, tarian tradisional Jabar pun banyak memberikan pitutur atau petuah yang bisa diambil masyarakat sebagai apresiator, termasuk tari rongggeng bugis dari Kabupaten Cirebon.
         
    Seyogyanya, masyarakat tidak hanya menonton dan cukup merasa puas setelah menyaksikan tarian itu. Lebih dari itu, ada sejumlah nilai dan makna yang bisa digali dari sebuah tarian, termasuk dari tari ronggeng bugis atau telik sandi. Tarian yang merupakan bentuk penyamaran tentara Kerajaan Bugisdi daerah kerajaan Pajajaran ini sepatutnya bisa digali dan dipahami.

   Ronggeng bugis mempunyai pitutur sinandi suatu ajaran luhur, bahwa kita hendaknya hidup sederhana, panarima, berkarya, ulet, dan waspada. Ronggeng bugis yang dikembangkan di Cirebon bersifat islami dan memiliki keperwiraan.

      Tarian ini bukan untuk menonjolkan identitas yang tidak jelas secara kelamin atau gender, yaitu antara laki-laki dengan perempuan atau banci, melainkan heroism keperwiraan yang penuh dengan risiko, namun dikemas dengan cerdas dalam bentuk telik sandi atau spionase.

     Menurut sebagian pendapat lisan, pasukan telik sandi ini dipimpin panglia wanita yang cantic, cerdas, dan gagah perkasa, yaitu Nyi Mas Gandasari yang berasal dari Kerajaan Aceh, murid Ki Sela Pandan, pendiri Cirebon.

    Ronggeng Bugis sebelumnya kurang dikenal masyarakat. Pada awal tahun 1990, setelah ronggeng bugis diajarkan di Keraton Kacirebonan oleh Handoyo dengan dukungan Pangeran Yusuf Dendabrata, maka ronggeng bugis mulai dikenal masyarakat. Ronggeng Bugis dikembangkan pada Festival Keraton Nusantara.

       Kini tari ronggeng bugis telah berkembang dan dikenal masyarakat. Bukan hanya oleh masyarakat Kabupaten dan Kota Cirebon, tarian ini pun telah dikenal hampir seluruh masyarakat Jabar. Adalah Handoyo yang berani mengembangkan dan memperkenalkan ronggeng bugis kepada masyarakat di luar Cirebon.

Ronggeng Bugis Sebuah Karya Seni Unik Yang Multi Kultur



     Ronggeng Bugis adalah satu jenis kesenian tradisional Cirebon. Merupakan seni pertunjukan rakyat untuk menghibur penonton dengan tarian dan ekspresi penuh dengan kejenakaan, mengundang tawa bagi yang menyaksikannya. Ronggeng Bugis dikenal juga dengan nama Tari Telik Sandi. Secara Harfiah nama kesenian ini terdiri dari dua kata yaitun Ronggeng dan Bugis. Secara umum pengertian Ronggeng adalah penari wanita atau tondak primadona sebagai teman menari, misalnya pada Tari Tayub. Di Cirebon ada juga seni pertunjukan rakyat yang penarinya adalah monyet yang disebut dengan Ronggeng Kethek (ledek munyuk), tarian monyet yang jenaka yang meniru gerak gerik manusia. Namun yang dimaksud ronggeng dalam Ronggeng Bugis ini adalah penari pria yang berbusana wanita. Yang dimaksud dengan busana wanita disini pun bukanlah busana dengan tata rias yang cantik, akan tetapi lebih mendekati kepada busana mirip badut yang mengundang gelak tawa.


     Pada Wayang Cirebon, ada sebuah wayang dengan tipe sepasukan prajurit perang yang disebut Krodhan Bugis yang maknanya adalah sepasukan prajurit Bugis yang menakutkan bagi musuh. Kata Bugis juga berarti makanan khas tradisional yang berwarna hijau, yang terbuat dari ketan dan enten (kelapa yang diberi gula jawa) berbentuk seperti nagasari atau pipis. Makanan ini teman koci, sehingga disebut bugis koci. Makanan ini merupakan kuliner Cirebon yang menyertai upacara-upacara adat Cirebon atau kenduri. Pengertian bugis disini adalah nama salah satu suku bangsa di negeri kita yang mendiami daerah Sulawesi Selatan dan sekitarnya.


     Pada saat pangeran Walangsungsang Cakrabuana membuka Cirebon pada Tahun 1448 Masehi, jumlah warga masyarakat yang telah menjadi pribumi di Cirebon sebanyak 346 orang, dengan perincian 196 orang sunda, 16 orang Sumatera, 4 orang Semenanjung Malaya, 3 orang dari Siam (Thailand), 11 orang Arab, 6 orang dari China, 106 orang dari Jawa, 2 orang dari India dan 2 orang dari Iran.


    Pada tahun 1482 masehi, Sunan Gunung Jati menyatakan kemerdekaan negara Cirebon, yang terlepas dari kekuasaan Maharaja Pakuan Pajajaran. Pada saat itulah negara Cirebon mempunyai sepasukan Telik sandi (prajurit Sandi Yuda) yang melakukan kegiatan spionase diwilayah pajajaran untuk mengetahui reaksi dari pernyataan kedaulatan penuh Negara Islam Cirebon. Pasukan telik sandi ini adalah pasukan yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang berani, bermental kuat, cerdas serta pandai menyamar. Menurut sumber lisan, dalam perjalanan waktu yang panjang, Kerajaan Cirebon dibantu oleh prajurit-prajurit Bugis, baik di era Galuh, masa Portugis, maupun masa Kolonial.

Pengembangan Ronggeng Bugis






Ronggeng Bugis sebelumnya kurang dikenal oleh masyarakat. Pada awal dekade Rotahun 1990 setelah Ronggeng Bugis diajarkan di Keraton Kacirebonan oleh Bapak Handoyo dengan dukungan Pangeran Yusuf Dendabrata, maka Ronggeng Bugis mulai lebih dikenal oleh masyarakat. Ronggeng Bugis dikembangkan terutama pada Festival Keraton Nusantara berikutnya tarian Ronggeng Bugis ini juga selalu diikutsertakan 1 tahun 1994  di Yogyakarta. Pada even festival keratin nusantara berikutnya tarian Ronggeng Bugis ini juga selalu diikutsertakan. Tarian Ronggeng Bugis ini juga dibawakan oleh duta budaya Pramuka STAIN Cirebon ke berbagai daerah seperti pada tanggal 22-30 September 2002 di Lampung Selatan, 23-31 Agustus di Kepulauan Seribu, tahun 2008 ke Palembang dan yang ter-up to date, tari Ronggeng Bugis ini dipertunjukan pada festival di Jambi, tanggal 11 Juni 2009 dibawah bimbingan Sanggar Kebon Kangkung dan Sanggar Sekar Pandan. Tari Ronggeng Bugis ini sering dimodutifikasi, dipertunjukan, ditarikan, di:
  •   Kabupaten Cirebon: Kecamatan Plumbon : Sanggar Pring Gading, Tokoh : Handoyo, Tono, dan Yno; Kecamatan Klangenan : Desa Bojong, Tokoh: Riwan; Kecamatan Gunung Jati : Desa Buyut, tokoh : Wadi dan Senin; Kecamatan Weru : Desa Pangkalan.

  •        Kota Cirebon : Sanggar Sekar Pandan, Tokoh: Elang Heri Komala Hadi, Sanggar Bagja Mulya, Sanggar Kebon Kangkung.

  •     Sanggar Sekar Pandan selama belasan tahun mengajarkan Ronggeng Bugis di Sekolah-Sekolah dasar maupun lanjutan di Kota Cirebon.


Alat Musik Ronggeng Bugis

 
Kethuk
Dalam permainan gamelan, kethuk berfungsi untuk menjaga keajegan irama agar tetap harmonis. cara memainkan kethuk ini adalah dipukul menggunakan sebuah alat pemukul yang dibalut karet atau kain yang cukup tebal pada ujungnya.

 
Kendang
Kendang ini berfungsi untuk mengatur irama dan tempo dari gendhing (lagu yang dimainkan). Bunyi kendang biasanya mengatur tempo pokok, irama cepat maupun lambat denngan tangkap. Cara memainkan alat musik ini yaitu dengan cara ditabuh atau dipukul dengan tangan pada bagian permukaan kulitnya.

Biasanya  permukaan kulit ini terbuat dari kulit hewan seperti kerbau, sapi, kambing, atau rusa. Namun beberapa pengajian kendang meyakini bahwa penggunaan kulit kerbau adalah terbaik ssebagai bahan baku karena dianggap lebih awet ketimbang kulit hewan lain.

Kempyang
Kempyang berfungsi sebagai alat musik ritmis dalam pertunjukan gamelan.Selain itu digunakan untuk membantu kendang agar menghasilkan sebuah ritme yang diinginkan. Biasanya kempyang dimainkan bersahutan dengan kethuk hingga menghasilkan bunyi "Tuk Bluk Tuk Bluk" dan membentuk harmoni yang indah.

Kecrek

Kecrek atau di Cirebon disebut keprak adalah salah satu alat musik atonal (tak bernada)  yang terbuat dari besi atau perunggu. Disebut kecrek karena bunyi yang terdengar dari alat ini adalah "crek atau cek".

Bentuknya pipih, mirip lembaran/plat besi yang ukurannya kurang lebih, panjang 20cm, lebar 10cm, tebalnya sekitar 3 inci atau ada juga yang lebih tipis sekitar 2 inci. Tebal tipisnya lembaran kecrek akan sangat berpengaruh pada bunyi kecrek itu sendiri. Dibagian samping kiri, kanan, atas biasanyaterdapat lubang yang besarnya sekitar 4 inci yang berguna untuk memasukkan tali pengikat. Lembaran kecrik harus berjumlah lebih dari satu, biasanya dua sampai dengan empat lembar. Jumlah lembaran tersebut diperlukan untuk menghasilkan bunyi "Crek Cek".Kecrek biasanya dipergunakan dalam berbagi pertunjukan wayang, tari ronggeng, dan lain-lain.

Cara membunyikannya ada yang dipukul dan ada pula yang ditekan oleh telapak kaki. Di luar pertunjukan wayang, kecrek ditabuh oleh seseorang yang disebut dengan tukang kecrek atau di Cirebon dan sekitarnya disebut pengeprak. Pengeprak atau penabuh kecrek tersebut memukulnya ke samping diman kecrek itu menggantung. Dalam pertunukkan topeng Cirebon, kecrik dibunyikan dengan cara dipukul oleh dua buah alat pukul.

didalam pertunjukan tari, tabuhan kecrek biasanya difungsikan untuk mempertegas aksen-aksen gerak sesuai dengan lemah kuatnya gerakan penari. Selain itu, bunyi kecrek berfungsi juga untuk pemanis (mamanis) pada berbagai gerakan tari, misalnya pada gerakan mincid, laras konda, engkeg gigir, dan sebagainya.


Gong 
Gong ini merupakan alat musik gamelan yang paling besar. Alat ini berfungsi untuk memberi tanda awal dan berakhirnya sebuah lagu atau gendhing. Gong akan memberi rasa keseimbangan setelah berlalumya lagu dengan lirik yang panjang. Salah satu alat musik gamelan ini dibunyikan dengan cara dipukul. Gong umumnya terbuat dari bahan logam kuningan. Biasanya diletakkan dengan cara digantung dalam sebuah panahan.



Sejarah Seni Tari Ronggeng Bugis





     Seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum, suku, dan bangsa tertentu. Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar secara alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu. Karena sifatnya yang melekat dengan hidup masyarakat, seni tradisional harus bersifat nyata. Untuk menjaga aktualisasi seni tradisional langkah-langkah preservasi perlu dilakukan agar seni tradisional tidak musnah.

     Keanekaragaman bahasa itu menjadikan keunikan tersendiri yang dimiliki kota ini, tidak hanya itu dengan menggali lebih dalam kota ini, keanekaragaman bahasanya lebih ragam lagi dengan kebudayaan dan seni yang dimilikinya.

  1.   Tari Tayub
      Tayuban konon lahir di lingkungan kraton dan digunakan untuk menghormati tamu-tamu agung juga digunakan untuk acara-acara penting seperti pelakrama agung (perkawinan keluarga Sultan), tanggap warsa, peringatan ulang tahun, papakan, atau sunatan putra dalem.

     Tayuban kemudian menyebar dan berkembang di masyarakat dengan pengaruh negative, baik datangnya dari luar maupun dari dalam. Waditra yang digunakan adalah laras pelog, gendang, bedug, saron, bonang dsb. Wiyaga berjumlah 15 orang.

     Busana Wiyaga bendo, baju taqwa, kain batik dan celana sontok. Busana Ronggeng kembang goyang, melati suren, sanggung bokor, cinatok, sangsangan, krestagen dan alat perhiasan. 

   2.  Tari Topeng

     Tari Topeng pada mulanya hanya menjadi tontonan di lingkungan Kraton sebagai tuntunan dalam penyebaran ajaran agama Islam kepada masyarakat.

     Tari Topeng ini sudah ada jauh sejak abad 10-11M yaitu pada masa pemerintahan Raja Jenggala di Jawa Timur yaitu Prabu Panji Dewa. Melalui seniman jalanan Seni Tari Topeng ini masuk ke Cirebon dan mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat.

     Pada masa Kerajaan Majapahit dimana Cirebon sebagai pusat penyebaran agama islam, Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga menggunakan Tari Topeng ini sebagai salah satu upaya untuk menyebarkan agama islam dan sebagai hiburan di lingkungan Keraton.

     Tari Topeng Cirebon sendiri dapat digolongkan ke dalam lima karakter pokok topeng yang berbeda yaitu :

·      3.  Topeng Panji

     Digambarkan sebagai sosok manusia yang baru lahir, penuh dengan kesucian, gerakannya halus dan lembut. Tarian ini bagi beberapa pengamat tarian merupakan gabungan dari hakiki gerak dan hakiki diam dalam sebuah filosofi tarian.

·       4.  Topeng Samba

     Menggambarkan fase ketika manusia mulai memasuki dunia kanak-kanak, digambarkan dengan gerakan yang luwes, lincah dan lucu.

·       5.  Topeng Rumyang

     Merupakan gambaran dari fase kehidupan remaja pada masa akhil balig.

·        6. Topeng Tumenggung

     Menggambarkan dari kedewasaan seorang manusia, penuh dengan kebijaksanaan layaknya sosok prajurit yang tegas, penuh dedikasi, dan loyalitas seperti pahlawan.

·        7. Topeng Kelana atau Rahwana

     Merupakan visualisasi dari watak manusia yang serakah, penuh amarah, dan ambisi. Sifat inilah yang merupakan sisi lain dari diri manusia, sisi “gelap” yang pasti ada dalam diri manusia. Gerakan topeng Kelana begitu tegas, penuh dengan ambisi layaknya sosok raja yang haus ambisi duniawi.

   8. Tari Beksa

     Tari baksa yang merupakan salah satu jenis tarian khas masyarakat Desa Trusmi, Kecamatan Weru. Baksa sendiri memiliki arti babak iyasa atau "yang pertama berjasa". Gerakan-gerakan yang ada di dalamnya menggambarkan keperkasaan dan kesiagaan serta tanggung jawab seorang prajurit atas keselamatan rajanya. Tarian ini ditujukan sebagai bentuk penghargaan kepada para prajurit kerajaan atau bagi petugas keamanan sebuah negara.

4     9. Tari Sintren (Tari Lais)

     Kata Sintren di bangun oleh 2 kata yaitu si dan tren, “si” atau “ia” dan tren atau tri yang berarti “putri”, jadi arti dari sintren adalah “ia putri”, maksudnya yang sebenarnya menari bukan lah si penari sintren, namun roh seorang putri, yaitu sulasih, atau biasa di sebut Rr. Ratnamsari. Kesenian Sintren dikenal juga dengan nama lais. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

     Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Rahasia Mistis Tari Sintren Tengah khususnya Cirebon, berkembang antara lain di Indramayu, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Banyumas, Kuningan, dan Pekalongan.

     Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Bahurekso Bupati Kendal yang pertama hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari yang dijuluki Dewi Lanjar. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

     Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).

       9. Tari Bengberokan

     Tarian bengberokan adalah kesenian penolak bala yang hampir mirip dengan kesenian barongsai dari Tiongkok. Pada awalnya tari ini dilakukan sebagai bagian dari upacara ruwatan dalam menanggulangi pageblug (epidemi penyakit), menempati rumah baru, dll. Namun, saat ini pertunjukan burokan lebih banyak dipakai dalam memeriahkan pesta khitanan atau perkawinan. Selain itu tari Bengberokan dimainkan juga pada upacara Ngunjung Buyut, yaitu upacara untuk menghormati arwah leluhur di pekuburan desa-desa tertentu.

      10. Tari Manggala Yuda

     Tari Manggala Yuda yang di ciptakan oleh seorang koreografer yang bernamana Elang Herry Komarahadi. Tari Manggala Yuda ini dilatar belakangi cerita prajurit keraton yaitu menceritakan tentang pimpinan pasukan perang yang menghadap sultan untuk mengemban tugas serta memperlihatkan ketangkasan dan kesiapan berperang dihadapan rajanya.

      11. Tari Wayang

     Tari wayang mulai dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya.

Berdasarkan segi penyajiannya tari wayang dikelompokkan menjadi 3 bagian antara lain :

1. Tari Tunggal yaitu tarian yang dibawakan oleh satu orang penari dengan    membawakan satu tokoh pewayangan. Contoh : Tari Arjuna, Gatotkaca, dan lain-lain.

2. Tari berpasangan, yaitu tarian yang dibawakan oleh dua orang penari atau lebih    yang keduanya saling melengkapi keutuhan tariannya, contoh : Tari Sugriwa, Subali dan lain-lain.

3. Tari Massal yang berjumlah lebih dari satu penari dengan tarian atau ungkapan yang sama. Contoh : Tari Monggawa, Badaya, dan lain-lain.

     12. Tari Jaran Lumping

     Tari Jaran Lumping dahulu disebut juga Jaran Bari dari kata Birahi atau Kasmaran, karena mengajarkan apa dan bagaimana seharusnya kita mencintai Allah dan Rasulnya. Oleh karenaitu tarian Jaran Lumping digunakan sebagai alat dalam mengembangkan agama Islam.Yang menciptakan Jaran Lumping adalah Ki Jaga Naya dan Ki Ishak dari Dana Laya Kecamatan Weru. Waditra yang digunakan yaitu bonang kecil, bonang Gede, panglima, Gendang, Tutukan, Gong, dan Kecrek.

     Sarana lainnya Damar Jodog, Sesajen, Pedupaan, Bara Api (Arang) dan Jaran Lumping 5 buah yaitu Jaran Sembrani, Jaran Widusakti, Jaran Widujaya, Jaran Sekadiu. Busana penari menggunakan ikat wulung gundel meled, udeng merah, sumping kantil dan melati, selendang, rompi, celana sontok, kestagen atau bodong dan kain batik.

     13. Tari Ronggeng Bugis

     Ronggeng Bugis atau Tari Telik Sandi adalah salah satu tari tradisional yang bersifat komedi dari Cirebon. Tarian ini bersifat komedi karena dimainkan oleh penari laki-laki sebanyak 12 - 20 orang dengan dandanan dan gaya menari layaknya perempuan. Namun jangan salah walaupun bergaya wanita, makeup yang dipergunakan oleh penari tidak kelihatan cantik justru bisa dibilang mirip baduk yang mengundang gelak tawa.

     Asal mula tari Ronggeng Bugis, dilatarbelakangi ketegangan yang terjadi antara kerajaan Cirebon dengan Kerajaan Islam. Sunan Gunung Djati sebagai Raja Cirebon saat itu menyuruh seorang kerabat kerajaan yang berasal dari Bugis untuk memata-matai atau saat itu dikenal dengan istilah telik sandi Kerajaan Pajajaran. Waditra atau pengiring musik yang dipakai pada pertunjukan tari telik sandi atau ronggeng bugis ini adalah alat musik tradisional jawa barat antara lain Kelenang, Gong kecil, Kendang, Kecil, dan Kecrek.